Zona Luar Negeri
OBAMA DI INDONESIA
NAMA aslinya Barack Obama atau lengkapnya Barack Hussein Obama. Ayahnya warga Kenya seorang Muslim yang memperoleh beasiswa untuk belajar di Amerika tahun 1959. Ibunya wanita kulit putih asal dari Kansas, negara bagian AS.
Saya pikir nama Barack itu ada kaitannya dengan kata Arab “barakah” yang mengandung makna: Memberkahi, merestui, mendoakan. Waktu kecil dia dipanggil dengan nama Barry. Ini untuk memudahkan lafalnya dan agar kedengarannya lebih cocok dengan kultur Amerika.
Tapi kemudian setelah berangkat jadi dewasa dan bersekolah di college Amerika nama Barry ditinggalkannya. Dia kembali ke akar aslinya dan minta disapa dengan nama Barack. Dia berbuat begitu sebagai bagian dari usahanya mencari jatidirinya, mengetahui siapakah dia sebenarnya? Apakah dia Negro kulit hitam? Atau Mestizo alias Indo berkulit kopi susu? Ataukah dia orang Amerika yang beribu bule berayah hitam?
Perubahan nama tadi menarik dan merupakan sebuah topik yang dikaji oleh majalah Newsweek (31-3-2008) dalam tulisan berjudul: Ketika Barry menjadi Barack. Tapi bagi saya yang menarik untuk dibaca ialah pengalamannya hidup di Indonesia waktu berusia 6 tahun.
Ibunya sudah bercerai dengan Obama Senior dan menikah lagi dengan seorang mahasiswa Indonesia di Universitas Hawai Setoro. Mereka pindah ke Jakarta tahun 1968, ketika Obama baru berumur 6 tahun dan sebagai Barry bersekolah di SD Jalan Besuki Jakarta.
Barack Obama melukiskan ibunya dalam memoarnya sebagai “saksi sepi bagi perikemanusiaan sekuler.” Pengalamannya di Indonesia merupakan suatu pembuka mata bagi serang kanak-kanak yang dibesarkan dalam komfort atau kesenangan lumayan dari Hawaii.
Barack tidak tahu berbuat apa, ketika seorang penderita penyakit kusta yang hidungnya telah berlobang dan bila bicara mengeluarkan bunyi yang tak sedap datang ke rumah Barack minta makanan. Dia harus belajar bagaimana bersikap terhadap para pengemis di jalanan dari semua jenis.
Ibu Obama yang berhati dermawan dengan gampang memberi sedekah. Ayah tirinya yang orang Indonesia, seorang laki-laki yang tidak sentimentil dengan pandangan yang lebih praktis terhadap dunia memberi nasehat kepada bocah itu bahwa tuntutan-tuntutan kaum yang membutuhkan tidak habis-habisnya. Lebih baik bersikap tegar dan kuat “lantaran orang memanfaatkan kelemahan orang lain.”
Obama muda bergumul dengan merasa diri bersalah dari kaum yang enak hidupnya. Untuk pertama kali dia juga berhadapan dengan beban potensial punya kulit hitam. Ini terjadi menurut otobiografinya di perpustakaan kedutaan Amerika di Jakarta di mana ibunya memberi pelajaran bahasa Inggeris kepada para pengusaha setempat (lokal).
Barry Obama berada di sana membalik-balik halaman majalah-majalah, ketika dia melihat foto-foto yang mengganggu perasaan dari seorang kulit hitam (Negro) yang mencoba menghilangkan warna hitam kulitnya dengan menggunakan bahan kimia. Orang itu lantas punya muka seperti hantu, seakan-akan dia menderita akibat radiasi keracunan.
Obama menulis dalam biografinya, “setelah melalui masa kanak-kanak yang bebas dari menyangsikan diri-sendiri (self-doubt), setelah melihat foto-foto tadi akibatnya adalah pukulan keras terhadap diri saya”. Obama telah diberi peringatan sebelum mengenai orang-orang fanatik dan tidaklah seluruhnya dungu terhadap kejahatan-kejahatan dunia.
“Tapi foto yang satu itu mengatakan sesuatu kepada saya yakni bahwa terdapat musuh tersembunyi nun di luar sana, musuh yang bisa menjangkau saya tanpa pengetahuan siapa pun, juga tidak pengetahuan saya sendiri”.
Ibunya yang bule itu berbuat sebaik-baiknya untuk mempersenjatai putranya terhadap penyangsian diri-sendiri. “Berkulit hitam adalah ahli waris dari sebuah warisan besar, suatu takdir istimewa, bebanbeban berja yang hanya kita yang cukup kuat mendukungnya”, ujar ibunya.
Ibunya juga mengajarkan kepadanya “untuk meremehkan campuran ketidaktahuan dan kecongkakan yang seringkali mencirikan orang-orang Amerika di luar negeri”. Ibunya memastikan bahwa Obama bersikap hormat terhadap orang-orang Indonesia dan kebudayaan mereka.
“Ibu saya selalu memilah-milah antara aspek-aspek tertentu dari orang-orang Amerika di luar negeri, bahwa dia merasa tidak enak oleh orang-orang Amerika tersebut yang tidak pernah makan di sebuah restoran lokal atau pernah bergaul dengan orang-orang Indonesia atau mempunyai suatu sikap yang merendahkan orang lain.
Ibu selalu prihatin mengerti saya agar jangan pernah berpikir saya itu lebih hebat (superior) daripada orang-orang Indonesia dengan cara begitu” tulis Obama. Barack banyak makan sate ayam di warung di pinggir jalan, nasi goreng dan bakso daging. Dia menonton wayang kulit dan mendengarkan musik Indonesia. Pekarangan belakangan rumahnya tempat memelihara anak buaya piaraan, sangkar burung.
Saudara perempuannya Maya (satu ibu, lain bapak yaitu orang Indonesia) mengatakan “Keadaannya tidak semuanya seram”. Pada waktu itu Jakarta merupakan suatu desa besar yang terbentang luas, disinari oleh lampu-lampu minyak tanah, suatu surga bagi seorang bocah laki-laki. Ibunya mengajarkan padanya nilai-nilai kejujuran, sikap adil dan bicara terus terang.
“Bagi ibu itu adalah bagian dari tradisi Amerika yang dibanggakan dan ibu ingin memastikan agar itu juga menjadi bagian dari diri saya” tulis Obama. Namun kemiskinan dan korupsi Indonesia akan datang menyuntikkan aktisisma yang tidak terbendung dalam diri si bocah, demikian kemudian Obama menuliskan kenangannya.
